Archive | June 2012

Flores…….Surga yang tersembunyi ( Day 2 )

Kicau burung-burung dan suara pecahan lembut laut utara di pantai Waiara membangunkanku pagi itu….Dengan segera aku beranjak dari tempat tidurku. Hiasan tenun khas Maumere mewarnai kamar hotel ini sehingga terasa banget kesan traditionalnya. Flores yang terkenal dengan julukan Pulau Bunga memang sangat kaya dengan tradisional ikat/ tenun.

Kulangkahkan kakiku yang tanpa sandal menuju pantai sambil menikmati cahaya mentari pagi yang belum seutuhnya nampak….cahaya kuning kemerah-merahan nampak di garis horisontal pantai. Beberapa perahu nelayan nampak dari kejauhan.

Om Yos sudah menunggu di restaurant tempat sarapan. Saya mengambil roti dan segelas kopi untuk sarapan. Lalu kami bersiap-siap memulai perjalanan kami menuju Moni, kabupaten Ende. Namun ada beberapa tempat yang harus dikunjungi jika anda berada di Maumere.

Pertama kami mengunjungi desa Watublapi. Sebuah desa kecil yang terletak di sebuah bukit kira 30 menit perjalanan dari kota maumere. Disini kami disambut dengan Tarian lokal penyambutan tamu. Beranekaragam hasil tenun di pajang di pohon-pohon kopi yang ada disamping salahsatu sekolah dasar…meski kelompok ini sudah pernah menjuarai event pertunjukan nasional tapi mereka masih belum bisa untuk mendirikan sebuah gedung utuuk memamerkan hasil karya mereka…ya paling tidak semacam gedung yang bisa dijadikan sebuah galeri sederhana.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami menuju desa Wuring…Sebuah desa Nelayan yang paling parah rusaknya ketika Tsunami menerjang Maumere pada tahun 1992. Getaran gempanya terasa hingga seluruh daratan Flores. Rata-rata orang kampung wuring berasal dari suku Bajo. Suku bajo adalah salahsatu suku pelaut dari Sulawesi Tengah yang terkenal sebagai pelaut ulung. Deretan rumah panggung berjajar dengan tiang penyangga diatas air.

Setelah menyantap ikan bakar sebagai menu lunch perjalanan dilanjutkan menuju Seminari Ledalero. Ledaledo berjarak kira-kira 15 km dari pusat kota Maumere. Ini merupakan Seminari Tinggi tempat calon-calon pastor katolik kuliah. Selain Seminari Ledalero ada juga seminari Tinggi lain yaitu Ritapiret. Penduduk Flores memang mayoritas beragama katolik. Di Ledalero terdapat sebuah museum yang di bangun oleh misionaris dari belanda.

Tiga jam berkendara…Setelah mobil kami menyusuri jalan aspal yang sempit dan medan yang berliku-liku sampailah kami disebuah desa kecil yang bernama Paga. Pemandangan alamnya yang indah serta pantainya yang bersih memanjakan mata kami sepanjang perjalanan.  Segelas kopi dan pisang goreng yang masih hangat membuat suasana sore bertambah nikmat. Lalu kami pun bersiap lagi untuk melanjutkan perjalanan kami menuju Moni.

Gelap menyelimut ketika mobil kami memasuki parkiran hotel Kelimutu Ecolodge. Ini adalah sebuah hotel baru yang baru saja dibangun dan mulai beroperasi medio 2010. Hotel dengan style yang unik di sisi lembah sungai. Kamarnya yang luas dan bersih serta bathroomnya yang bergaya western.  Angin dataran tinggi memaksaku menarik jaketku lebih erat sambil menikmati makan malam di restaurant hotel. Segarnya udara pegunungan seakan menyentuh paru-paruku.

Pagi-pagi sekali saat sang surya masih tidur…kami bersiap-siap menuju Kelimutu Lake national park . Untuk mencapai danau Kelimutu, ditempuh kira-kira 20 menit dari hotel menuju pos 1. Dari parkiran ini kita harus berjalan kaki kira-kira 15 menit menuju puncaknya…Udara dataran tinggi yang dingin seakan tak terasa karena keringat sudah mulai keluar setelah berjalan kaki di tengah kegelapan Kelimutu. Tak satupun bisa terlihat hanya kakiku yang sekali-sekali merintih saat tersandung menyusuri setapak yang tak rata.

Setelah menunggu satu jam di puncak kelimutu…pelan-pelan kabut pergi ditiup semilir angin dan mataku tertegun melihat keindahan alam flores. Sungguh suatu anugerah yang luarbiasa.  Mentari pagi yang tersenyum dibalik awan memancarkan cahaya kemerah-merahan seakan menyapa dunia. Deretan Danau tiga warna yang menambah decak kagumku…luarbiasaa floresku!! Sambil menikmati kopi hangat yang dijual penduduk lokal. Danau yang berwarna hitam kecokela-cokelatan seperti Coca cola atau Tiwu Ata Mbupu yang menurut kepercayaan masyarakat lokal, danau tersebut adalah bersemayamnya arwah-arwah orang tua.  Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai atau danau tempat bersemayamnya arwah muda-mudi adalah yang berwarna biru muda. Tiwu Ata Polo, yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya arwah orang-orang jahat adalah yang berwarna hijau tua. Masyarakat setempat percaya bahwa kelimutu adalah tempat yang keramat sehingga masih sering diadakan upacara adat dengan mempersembahkan hasil bumi mereka. karena dipercaya Kelimutu adalah sumber kesuburan untuk desa mereka. Suara pohon-pohon cemara yang ditiup sang angin seakan menambah kesan sakralnya kelimutu bersahutan dengan suara burung Garugiwa yang merupakan salahsatu spesies endemik Kelimutu.  burung dengan warna bulu tubuh bagian atas hijau kekuningan seakan menjadi penjaga di danau tiga warna kelimutu.

Menyusuri jalan pulang menuju hotel, saya menyempatkan diri singgah di sebuah kampung kecil di kaki kelimutu. Senyum ramah penduduk lokal menyapa dan murid-murid sekolah dasar bermain di depan kelas sekolah mereka yang nyaris tak berdinding…rasa miris melihat gedung itu terobati melihat senyum anak-anak tak bersepatu itu. Sawah yang hijau dengan sumber air yang melimpah menyejukan mataku. Lalu sampailah kembali di hotel untuk melanjutkan perjalanan kami…….

Flores…..Surga yang tersembunyi

Flores…..Surga yang tersembunyi ( Day 1)Image

Setelah menempuh 2 jam penerbangan….sampailah saatnya M-60 mendarat di Bandara Frans Seda yang dulu bernama Waioti, Maumere. Udara Panas dan senyum khas flores menyambut….dengan semangat ku gendong ranselku dan keluar dari gate bandara yang minim fasilitas…

Di depan gate sudah menunggu om Yos, Sopir Branch office. Manumadi Wisata Flores. Pria asli Bajawa- Ngada, Flores itu sudah melambaikan tangannya ke arah saya. Ranselku dimasukan ke bagasi Panther Touring keluaran 2011-nya. Dipacunya Panther Touring itu dengan kecepatan rata-rata. Dengan pengalamannya yang sudah hampir 20 tahun menjadi sopir…Om Yos, sudah mengerti betul medan Trans Flores.

Kurang dari 15 menit perjalanan, kami memasuki Sea World Resort yang terletak di desa Waiara kira-kira 15 km arah timur  dari kota Maumere. Resort ini terdiri dari 25 unit Bungalow yang dibagi menjadi beberapa room category. Resort ini juga adalah milik dan dikelolah oleh sebuah yayasan sosial lokal. Dilengkapi juga dengan Restaurant & Bar yang menyediakan berbagai macam menu; Indonesia maupun International.

Gemericik suara ombak Laut Flores ditemani segelas Kopi menemani kami melepas pergi senja. Yang kemudian    dilanjutkan dengan Barbeque diiringin musik tradisional Maumere yang memacu semangat.Saya dan Turis-turis yang menginap di Seaworld Club Maumere hanyut dalam alunan nada………

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!